Dalam suka ku percaya
kau kan bisa menemani dengan cinta
dalam duka ku bertanya
bagaimana dalam hatimu bicara
* cerita yang kita punya
takkan ada jika tak percaya
reff:
di saat hampa harimu dan saat hampa hatimu
ku kan ada, ku di sana, menemanimu selalu
di saat hilang jalanmu dan saat hilang nafasmu
ku kan ada, ku di sana, menemanimu selalu
dalam cinta ku bertanya
sampai mana rasa ini kan dicoba
repeat *
repeat reff [3x]
Dalam duka
Showing posts with label BUKAN Puisi. Show all posts
Showing posts with label BUKAN Puisi. Show all posts
Monday, September 5, 2011
Sunday, July 17, 2011
JaLan Panjang
Jalan panjang sudah dilalui. Bersemangat seperti berapi - api, sudah. Terpukul terpuruk kalah, sudah. Tertawa, menangis, bersabar, tak sabar, gamang, buntu, juga sudah.
Setelah musim menjadi pasrah berserah, maka langit tiada upaya. Anak burung kembali ke sarang, Dan Ilalang cuma melepas angan terbang. Musim sudah berserah, lalu apa lagi? Bukan tak pernah mengejar sekuat hati, bukan pula tak pernah menyerah dan mengunci jiwa dikedalaman diri. Sudah, pernah.
Namun, kaca takdir tak menampakan rupa bayangan.
Jalan yang begitu panjang itu sudah dilalui, tak pelak juga menyisakan banyak cenderahati kenang- kenang rasa. Setelah musim berserah, langit ini tiada tau mesti menyimpul keteruraian cakrawala diarah mata angin yang mana...
Setelah musim pasrah, langit juga berserah... Biarlah angan mimpi diambil kembali oleh Sang Maha Pemberi...
Anugerah rasa yang tak teralamatkan pasti, maafkan bila belum mampu tertunaikan...
Langit juga telah berserah, jika pun pada akhirnya jalan panjang terhenti disini dan sisa nafas memudar dalam sejarah...
Bukan lelah, hanya ikut pasrah. Bukan jenuh, hanya belajar memugar jiwa pada tubuh...
Jalan panjang sudah dilalui, dan mungkin jalan panjang juga masih didepan sana...
Jika dua jiwa tak mampu menembus bentuk yang memisah jalan, mungkin.. kelak.. Suatu waktu.. Suatu sudut.. Kan ada persimpangan yang menghubungkan.
Mungkin...
(...juLy bercerita pada hujan )
Setelah musim menjadi pasrah berserah, maka langit tiada upaya. Anak burung kembali ke sarang, Dan Ilalang cuma melepas angan terbang. Musim sudah berserah, lalu apa lagi? Bukan tak pernah mengejar sekuat hati, bukan pula tak pernah menyerah dan mengunci jiwa dikedalaman diri. Sudah, pernah.
Namun, kaca takdir tak menampakan rupa bayangan.
Jalan yang begitu panjang itu sudah dilalui, tak pelak juga menyisakan banyak cenderahati kenang- kenang rasa. Setelah musim berserah, langit ini tiada tau mesti menyimpul keteruraian cakrawala diarah mata angin yang mana...
Setelah musim pasrah, langit juga berserah... Biarlah angan mimpi diambil kembali oleh Sang Maha Pemberi...
Anugerah rasa yang tak teralamatkan pasti, maafkan bila belum mampu tertunaikan...
Langit juga telah berserah, jika pun pada akhirnya jalan panjang terhenti disini dan sisa nafas memudar dalam sejarah...
Bukan lelah, hanya ikut pasrah. Bukan jenuh, hanya belajar memugar jiwa pada tubuh...
Jalan panjang sudah dilalui, dan mungkin jalan panjang juga masih didepan sana...
Jika dua jiwa tak mampu menembus bentuk yang memisah jalan, mungkin.. kelak.. Suatu waktu.. Suatu sudut.. Kan ada persimpangan yang menghubungkan.
Mungkin...
(...juLy bercerita pada hujan )
Tuesday, June 21, 2011
Sudut Kota
Menuju batang hari yang panas
anak angin merayap dalam nyanyian
lirih mendengungkan lagu ditiap - tiap isaura
mengantar kepunahan jasad embun pada lembar waktu
Di sudut kota,
ada harapan layu yang berteduh dari terik
silau ia akan cahaya
gemetar ia akan musim
Lalu sunyi pelan - pelan singgah
mendekap harap itu yang tergugu
tatapan yang ternotasi adalah kosong
Aku...
terdiam
di sudut kota
Mempawah, Juni 2011
anak angin merayap dalam nyanyian
lirih mendengungkan lagu ditiap - tiap isaura
mengantar kepunahan jasad embun pada lembar waktu
Di sudut kota,
ada harapan layu yang berteduh dari terik
silau ia akan cahaya
gemetar ia akan musim
Lalu sunyi pelan - pelan singgah
mendekap harap itu yang tergugu
tatapan yang ternotasi adalah kosong
Aku...
terdiam
di sudut kota
Mempawah, Juni 2011

